Cara Jitu Mendapatkan Inspirasi Bisnis untuk Mengembangkan Usaha Anda Secara Optimal

Dari mana inspirasi bisnis Anda berasal? Mungkin jawaban setiap orang berbeda-beda. Ada yang mengikuti bisnis yang sudah digeluti keluarga besar selama bertahun-tahun. Ada yang tertarik setelah melihat kesuksesan seorang kawan dalam suatu bidang. Ada pula yang langsung terinspirasi setelah membaca berita.

Namun, sebelum asal mengikuti usaha yang inspiratif, siapkan dulu strategi yang mumpuni. Apalagi bila Anda masih perlu penghasilan tetap untuk kebutuhan sehari-hari. Jangan sampai bisnis yang baru Anda geluti terus cepat merugi. Yang ada Anda malah stres sendiri.

Setelah mendapatkan inspirasi bisnis, coba tahan diri dulu dan mulai menyusun strategi. Bila sudah mantap, dari sinilah petualangan baru Anda dalam berbisnis dimulai.

Strategi Setelah Belajar dari Inspirasi Bisnis yang Sudah Ada

Untuk pebisnis pemula, tidak ada salahnya bila Anda mencoba beberapa strategi awal di bawah ini:

1. Mengikuti Tren

Banyak yang mendapatkan inspirasi bisnis setelah mengetahui trend yang tengah berlaku pada saat ini. Tentu saja, mengikuti tren bukan berarti hanya menjadi pengekor tanpa inovasi.

Bahkan, lebih baik lagi bila Anda bisa menampilkan keunggulan berbeda, meskipun produk yang ditawarkan sama dengan yang sudah ada. Kita dapat melihat contoh inspirasi bisnis yang mengikuti tren ini:

Bisnis Susu Kedelai

Selain susu sapi, ternyata susu kedelai juga mulai diminati. Produk ini cocok bagi mereka yang mengalami intoleransi akan laktasi (atau disebut juga ‘alergi susu hewani’). Gaya hidup vegetarian dan vegan juga membuat susu ini semakin banyak dicari dan menjadi pilihan konsumsi.

Susu kedelai juga sehat sekali, karena tidak mengandung kolesterol. Menurut buku “Pengangguran Kaya Raya” yang ditulis oleh Wildan Fatoni, modal awalnya juga tidak sampai lebih dari tiga setengah juta rupiah. Ini untuk etalase dan semua perangkat pendukung bisnis susu kedelai.

Biaya operasionalnya juga tidak sampai lebih dari tiga juta rupiah. Ini termasuk kedelai, gula, pasta perasa, gas, listrik, hingga kemasan. Bila asumsi pendapatan per bulan adalah empat setengah juta rupiah (untuk 150 bungkus), maka Anda bisa untung sekitar satu setengah juta rupiah.

2. Memulai Bisnis dari yang Bermodal Kecil

Salah satu keinginan populer para pebisnis pemula adalah memulai bisnis dari modal sedikit. Bahkan, kalau perlu tanpa modal sama sekali.

Sayangnya banyak yang salah kaprah dengan kata ‘modal’ itu sendiri. Sesungguhnya, modal itu tidak hanya berupa finansial. Modal bisa berupa ilmu dan kemauan kuat untuk belajar. Bila ilmu sudah didapatkan dan kemauan kuat untuk maju itu ada, tinggal saatnya berburu dana.

Bila belum punya dana yang cukup, mau tidak mau Anda harus bekerja dan menabung dulu. Berapa lama? Ya, sesuai perkiraan biaya yang sudah Anda susun dulu. Bila ingin nekat langsung memulai, jangan sampai Anda tidak punya simpanan cadangan sama sekali.

Ada beberapa contoh bisnis yang tidak membutuhkan modal banyak. Misalnya: Anda jago menulis konten dan menerjemahkan tulisan. Anda juga kenal beberapa teman dengan keahlian sama. Setelah bergabung, Anda bisa memasang iklan penawaran jasa menulis dan menerjemahkan konten melalui media sosial.

Itu baru contoh dan langkah awal. Contoh lainnya adalah berbisnis ternak hewan atau pakan ternak. Misalnya untuk hewan ternak, Anda bisa berbisnis ikan lele. Bila lahan belakang rumah sempit, Anda bisa membuat kolam kecil berbatas terpal untuk ikan lele. Hasilnya bisa dijual ke pengusaha warung pecel lele atau dimakan sendiri.

Untuk pakan ternak, Anda bisa berbisnis cacing, kroto, jangkrik, atau bahkan kelabang. Selain modalnya kecil (bahkan nyaris tidak ada bila kebun Anda berisi cacing tanah di bawahnya), persaingan di bisnis ini juga masih sedikit. Manajemennya juga tidak sulit dan memakan waktu banyak.

3. Memilih Bisnis yang Tidak Rumit

Memilih bisnis yang tidak rumit bukan hanya dari segi pengerjaannya. Bila dari awal Anda tidak terlalu berminat untuk mengerjakannya, bisnis yang terlanjur dipilih belum tentu akan maju.

Bila tertarik dengan bisnis tersebut namun pengerjaannya tidak mudah dan membutuhkan waktu lama, apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan maju terus atau memilih untuk menyerah? Mentalitas yang tepat juga dibutuhkan dalam menjalankan bisnis. Inspirasi bisnis saja memang tidak cukup.

Contohnya, bisnis kuliner dan pakaian atau produk fashion. Kedua bidang ini akan selalu memiliki pasar, karena manusia akan selalu membutuhkan makanan dan pakaian. Tentu saja, ragamnya juga banyak. Anda bisa memilih yang sesuai dengan minat dan kemampuan pribadi.

Bila suka membuat jajanan unik, Anda bisa membuat camilan seperti kentang goreng berbumbu keju atau barbekyu. Bila suka menjual produk fashion, sebaiknya jangan hanya terpaku pada pasar yang sudah termasuk aliran utama atau mainstream.

Bagaimana dengan pakaian untuk orang-orang berukuran plus? Mengingat maraknya kampanye body positive, yaitu penghargaan untuk ukuran tubuh apa pun, bisnis ini patut dilirik. Mereka yang bertubuh besar pun berhak tampil menawan, dengan pakaian yang cocok untuk mereka.

Etika Sebagai Bagian dari Inspirasi Bisnis

Inspirasi bisnis tidak hanya menyangkut produk-produk yang menarik maupun kesuksesan berdagang lewat produk tersebut. Satu hal yang rasanya semakin langka saat ini adalah etika dalam berbisnis.

Mengapa etika masih sangat penting? Memang, persaingan dalam dunia bisnis sekarang semakin sengit. Semakin banyak brand baru, meskipun dengan produk yang hampir mirip dengan barang yang ditawarkan sebelumnya. Hal ini menyebabkan sebagian pengusaha rentan gelap mata dan tergoda menghalalkan segala cara.

Nah, agar berbisnis tetap sehat dan dapat menjadi inspirasi bisnis bagi yang lain, jangan pernah lupakan etika. Beberapa hal yang sebaiknya tidak Anda lakukan untuk menunjukkan etika baik dalam berbisnis adalah:

1. Mengikuti Trending Topic tapi Sekalian Menjatuhkan Pihak Tertentu

Mengikuti trending topic sebelum memasarkan barang merupakan langkah lumrah bagi para pebisnis di era digital ini. Misalnya: saat orang tengah meributkan rendang krispi gara-gara satu acara masak di luar negeri, satu restoran makanan cepat saji menanggapinya dengan merilis menu ayam goreng krispi berbumbu rendang.

Namun, jangan sampai niat mengikuti trending topic justru menjatuhkan pihak lain. Misalnya: menawarkan produk pakaian karena terinspirasi oleh sosok selebritas yang dianggap berbusana kurang keren.

2. Membandingkan dan Bahkan Menjelek-Jelekkan Produk Lain

Memang, persaingan semakin ketat di era digital ini. Satu perusahaan mengeluarkan produk terbaru yang menarik, dalam hitungan bulan (dan bahkan minggu), yang lain mulai ikutan. Bahkan, tidak jarang promosinya cenderung membandingkan dan bahkan menjelek-jelekkan produk lain.

Dari dulu hingga kini, perilaku ini sangat merugikan. Tidak hanya bagi saingan, Anda sendiri yang nanti juga akan kena getahnya. Meskipun produk Anda memiliki beberapa keunggulan tertentu dibanding para saingan, cara ini juga bisa berujung pada tuntutan hukum.

Dalam hidup, ada yang disebut dengan karma. Bila sudah pernah menjelek-jelekkan produk saingan, bukan tidak mungkin hal yang sama akan terjadi juga pada produk Anda. Pastinya Anda juga tidak mau, ‘kan?

Daripada mencari musuh di dunia bisnis, lebih baik fokus pada kelebihan produk Anda. Bahkan, meskipun barang yang Anda tawarkan lebih baik dari milik saingan, sebaiknya tidak perlu menyebut-nyebut merk mereka.

3. Berusaha Menyabotase Produk Saingan Agar Lebih Unggul

Bila produk saingan menjadi inspirasi bisnis untuk Anda memulai yang sama, bolehlah. Namun, daripada mencontek total, sebaiknya lakukan inovasi agar barang atau jasa yang Anda tawarkan memiliki perbedaan dan bahkan keunggulan.

Lalu, bagaimana dengan usaha untuk menyabotase produk saingan? Misalnya: perusahaan A mengirim ‘mata-mata’ untuk bekerja di perusahaan B. Setelah mendapatkan informasi yang cukup mengenai keunggulan perusahaan B, barulah si ‘mata-mata’ keluar dan kembali pada perusahaan A.

Selanjutnya bisa ditebak. Perusahaan A diam-diam menyebarkan berita palsu atau hoax mengenai kekurangan produk perusahaan B. Mengingat masih banyak orang yang mudah percaya, perusahaan B pun merugi. Perusahaan A bebas mengakuisisi atau menyingkirkan perusahaan B.

Mungkin cara ini terkesan dramatis dan hanya ada di film-film. Sayangnya, hal ini masih mungkin terjadi. Sebelum tergoda untuk melakukan hal yang sama, coba pikirkan ini:

Bukankah lebih baik bila waktu, tenaga, dan biaya yang ada Anda manfaatkan untuk mengembangkan produk Anda sendiri?

Selain ketiga hal di atas, hindari sikap cepat puas dengan yang sudah didapatkan. Bahkan, lakukan evaluasi bisnis secara berkala, terutama bila inovasi mulai dibutuhkan.

Bagaimana menjadi inspirasi bisnis yang baik? Biarkan hasil yang berbicara, kecuali saat perlu memasarkan produk. Lebih banyak bekerja lebih baik. Lebih cerdas, bekerja? Apalagi.

Inspirasi Bisnis dari Pengusaha Sukses Maupun yang Pernah Gagal

Mencari inspirasi bisnis dari pengusaha sukses memang jauh lebih mudah. Misalnya: Oprah Winfrey yang mengawali karirnya sebagai jurnalis, sebelum akhirnya memiliki stasiun televisi sendiri dan produk media lain. Rasanya contoh pengusaha sukses dapat menjadi penyemangat agar kita lebih maju.

Namun, jangan segan juga menjadikan pengusaha yang pernah gagal sebagai inspirasi bisnis. Contoh: Sophia Amoruso yang pernah sampai diusir dari apartemennya saat tengah membangun bisnis. Hal ini gara-gara pengaturan keuangannya yang sempat gagal hingga terlambat membayar sewa apartemen.

Mengapa kita harus belajar juga dari mereka yang pernah terpuruk? Karena dari mereka, kita akan lebih berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Selain itu, kita juga akan lebih bersemangat saat mengetahui mereka tidak pernah menyerah. Jatuh sekali, bangunlah dua hingga tiga kali sampai berhasil.

Banyak sumber untuk menemukan inspirasi bisnis, terutama yang cocok bagi usaha pilihan Anda. Siapa tahu, setelah sukses dan dapat memberi manfaat bagi banyak orang, giliran Anda-lah yang menjadi inspirasi berikutnya di dunia bisnis.

Setelah Terinspirasi, Saatnya Memilih Bisnis

Sudah merasa cukup terinspirasi dan menyusun strategi? Saatnya memilih bisnis dan mulai berusaha. Jangan khawatir bila awalnya tersendat-sendat atau bahkan mengalami kegagalan. Sukses memang tidak mungkin didapatkan dalam semalam.

Selain terus belajar, jangan hanya tergantung pada inspirasi bisnis yang itu-itu saja. Bahkan, setelah menjadi pebisnis sukses pun, sebaiknya Anda tetap belajar dari pebisnis lain. Hal ini berguna untuk kemajuan usaha Anda sendiri dan perkembangan Anda secara pribadi.

Jadi, siapkah Anda untuk belajar dari inspirasi bisnis yang sudah ada? Sesudahnya, selamat memilih dan menjalankan bisnis sendiri. Semoga tidak hanya sukses, Anda dapat menjadi inspirasi bagi pebisnis lain yang baru merintis.

   

     

Promo Pelanggan baru