Tingkatkan Keuntungan Budidaya Kopi Dengan Mesin Pengupas Kulit Kopi

Kopi adalah komoditas perdagangan internasional terbesar kedua setelah minyak bumi. Potensi itu ditunjukkan dengan peringkat ekspor kopi Indonesia yang mencapai peringkat ke 4 terbesar dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia.

Selain besarnya keuntungan yang didapatkan dari budidaya kopi, Indonesia juga harus bersiap dengan persaingan produk dari negara kompetitor. Persaingan produk kopi Indonesia terhadap produk kopi dari negara kompetitor ditentukan oleh varian tanaman kopi dan mutu hasil pengolahan biji kopi.

Tanaman Kopi di Indonesia

Luas lahan kopi di Indonesia adalah 1.230.001 ha, dengan produksi 639.412 ton untuk kopi Robusta dan Arabika dengan volume ekspor 502 ton atau US$ 1.197,7 juta yang di dominasi greenbean dan arabika ke Eropa dan Amerika (Ditjenbun.2017).

“Saat ini pertumbuhan industri ritel kopi di Eropa, khususnya Hongaria mengalami peningkatan”. ucap Brussel Olvy Andrianita.

Hal itu mengindikasikan kebudayaan minum kopi semakin merata di segala tingkatan usia sehingga meningkatkan kebutuhan kopi di Eropa. Angka tingkat konsumsi kopi mencapai 3,5 kg per kapita per tahun. Ini diikuti dengan Nilai ekspor kopi Indonesia ke Uni Eropa pada 2016 yang tercatat hingga EUR 239,57 juta.

Sayangnya, tren ekspor Indonesia justru mengalami penurunan sebesar 0,05% dalam 5 tahun terakhir (2012-2016). (Berita Perdagangan. 2017).

Penurunan nilai ekspor kopi selain karena harga di pasar internasional yang juga menurun, diduga juga karena kualitas kopi dari Indonesia yang menurun. Hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor budidaya kopi yang tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Kita ketahui bersama bahwa sebagian besar kopi Indonesia diusahakan oleh petani dengan luas garapan rata-rata berkisar antara 0,5-1 ha, sehingga masih cukup sulit untuk menerapkan SOP sesuai ketentuan.

Sekitar 61% dari jumlah produksi kopi Indonesia digunakan untuk memenuhi kebutuhan ekspor, sedangkan sisanya untuk konsumsi dalam negeri dan disimpan sebagai carry over stocks oleh pedagang dan eksportir, sebagai cadangan jika terjadi gagal panen.

Varian biji kopi yang memiliki harga lebih mahal dan diminati oleh pasar adalah jenis kopi arabika.

Arabika memang bernilai ekonomi lebih mahal jika dibandingkan dengan robusta, namun varian kopi robusta justru lebih mendominasi dalam pemenuhan permintaan pasar global. Keunggulan jenis kopi robusta dibandingkan dengan arabika adalah syarat budidayanya yang lebih mudah dan tahan terhadap penyakit, sehingga produksi biji kopi robusta menjadi mayoritas tanaman kopi di Indonesia.

Kebijakan yang telah dan akan dilakukan pemerintah menurut Bambang yaitu dengan melakukan peningkatan daya saing usaha, nilai tambah, produktivitas dan mutu produk melalui partisipasi aktif para pemangku kepentingan yaitu dengan pengembangan komoditi kopi arabika dengan perluasan, intensifikasi dan kopi robusta melalui peremajaan, rehabilitasi, dan intensifikasi berbasis kawasan.

Peningkatan sumber daya manusia, pengembangan kelembagaan dan kemitraan, peningkatan investasi usaha, serta pengembangan sistem informasi manajemen

Jenis jenis kopi di Indonesia.

Ada beberapa golongan kopi yang dikenal dalam dunia perdagangan kopi. Namun yang paling sering dibudidayakan hanya kopi arabika, robusta, dan liberika.

Di Indonesia, terdapat tiga jenis kopi yang telah dibudidayakan, yaitu:

  • Kopi Arabika

Jenis kopi ini memiliki tingkat aroma dan rasa yang kuat. Arabika adalah jenis kopi yang paling banyak di kembangkan di dunia, termasuk Indonesia. Umumnya, budidaya kopi ini biasa dilakukan pada dataran tinggi (1000 – 1750 mdpl).

  • Kopi Liberika

Nama liberika berasal dari dataran rendah Monrovia di daerah Liberika. Jenis kopi liberika dapat tumbuh subur di daerah yang panas dan memiliki tingkat kelembapan yang tinggi. Kopi ini cenderung lebih mudah dibudidayakan dan memiliki penyebaran yang sangat cepat. Sayangnya, kopi ini memiliki kualitas yang lebih buruk dari kopi Arabika baik dari segi buah dan tingkat rendemennya rendah.

  • Kopi Canephora (Robusta)

Jenis kopi Canephora atau yang biasa dikenal kopi Robusta. Nama robusta dikenal secara umum dan dalam dunia perdagangan, sedangkan Canephora adalah nama botanis. Kopi ini berasal dari Afrika.  Kopi robusta memiliki kelebihan dari segi produksi yang lebih tinggi di bandingkan jenis kopi Arabika dan Liberika.

Mutu Kopi

Kualitas/mutu kopi sangat mempengaruhi penilaian terhadap harga di pasaran. Oleh karena itu, Indonesia sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia menerapkan Standar Nasional Indonesia untuk memberikan standar kualitas produk.

Standar Nasional Indonesia (disingkat SNI) adalah satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia.

SNI dirumuskan oleh panitia teknis dan ditetapkan oleh BSN. Standar mutu kopi biji yang berlaku saat ini adalah SNI 01-2907-2008. Jumlah nilai cacat dihitung berdasarkan sampel produk. Masing masing sampel produk memiliki berat 300 g. Berikut table uji mutu kopi yang digunakan untuk menentukan kualitas kopi.

Syarat mutu kopi secara umum

Syarat Mutu Secara Umum
No Kriteria Satuan Persyaratan
1 Serangga hidup Tidak ada
2 Biji berbau busuk dan atau berbau kapang Tidak ada
3 Kadar air % fraksi massa Maks 12,5
4 Kadar kotoran % fraksi massa Maks 0,5

Sumber: SNI 01-2907-2008

 

Penentuan besarnya nilai cacat biji kopi

NO.    Jenis Cacat                                                           Nilai Cacat
No 1 (satu) biji hitam 1 (satu)
1 1 (satu) biji hitam sebagian ½ (setengah))
2 1 (satu) biji hitam pecah ½ (setengah)
3 1 (satu) kopi gelondong 1 (satu)
4 1 (satu) biji coklat ¼ (seperempat)
5 1 (satu) kulit kopi ukuran besar 1 (satu)
6 1 (satu) kulit kopi ukuran sedang ½ (setengah)
7 1 (satu) kulit kopi ukuran kecil 1/5 (seperlima)
8 1 (satu) biji berkulit tanduk ½ (setengah)
9 1 (satu) kulit tanduk ukuran besar ½ (setengah)
10 1 (satu) kulit tanduk ukuran sedang 1/5 (seperlima)
12 1 (satu) kulit tanduk ukuran kecil 1/10 (sepersepuluh)
13 1 (stau) biji pecah 1/5 (seperlima)
14 1 (satu) biji muda 1/5 (seperlima)
15 1 (satu) biji berlubang satu 1/10 (sepersepuluh)
16 1 (satu) biji berlubang lebih dari satu 1/5 (seperlima)
17 1 (satu) biji bertutul-tutul 1/10 (sepersepuluh)
18 1 (satu) ranting, tanah atau batu berukuran besar 5 (lima)
19 1 (satu) ranting, tanah atau batu berukuran sedang 2 (dua)
20 1 (satu) ranting, tanah atau batu berukuran kecil 1 (satu)

Sumber: SNI 01-2907-2008

 

Klasifikasi Mutu

No. Mutu Syarat Mutu
1 Specialty Grade * Jumlah nilai cacat Maximum 5

* Bebas dari nilai cacat utama

* Pada biji kopi roast tidak tampak biji Muda (Quaker)

* Cup Evaluation min 80

2 Premium Grade * Jumlah nilai cacat maximum 8

* Boleh ada nilai cacat utama

* Pada biji roast maximum tampak 3 biji Muda (Quaker)

* Cup Evaluation max 79

 

Faktor Penentu Citarasa dan Aroma Kopi

Salah satu faktor penentu citarasa dan aroma kopi yaitu dengan menggunakan pupuk organik cair

Citarasa dan aroma kopi dipengaruhi oleh banyak sekali faktor. Bahkan setiap rantai produksi dapat mempengaruhinya. Berikut faktor penentu untuk menghasilkan citarasa dan aroma kopi yang baik.

Proses Budidaya Kopi

Proses budidaya kopi sangat mempengaruhi kualitas kopi, sehingga berdampak pada cita rasa dan aroma yang dihasilkan. Mulai dari jenis tanah, teknik budidaya, ketinggian tempat, jenis pupuk yang digunakan, bibit yang ditanam, jenis pohon naungan dan masih banyak lagi.

Begitu pentingnya proses budidaya dalam menentukan kualitas, kauntitas, aroma dan citarasanya, sehingga Indonesia banyak melakukan penelitian terkait proses budidaya yang baik dan efisien.

Kualitas biji kopi

Kualitas biji kopi ditentukan oleh beberapa hal berikut:

 

  • Keasaman.

 

Keasaman atau asiditas merupakan karakter biji kopi yang menentukan cita rasa produk kopi dan juga menentukan tingkat kecerahan kopi. Biji kopi yang baik memiliki tingkat keasaman yang rendah.

Tingkat keasaman yang tinggi membuat cita rasa kopi menjadi lebih nikmat. Tingkat keasaman biji kopi dipengaruhi oleh lokasi atau tempat tumbuh tanaman dan pengolahannya, besar-kecilnya suhu pemanggangan, jenis pemanggang, dan metode pemasakan.

  • Aroma.

Aroma menjadi karakter terkuat dan identik pada kopi. Aroma kopi dapat menstimulasi indera penciuman.

  • Body.

Faktor body dapat disetarakan dengan sensasi rasa mantap. Body terdiri atas tingkatan ringan berat yang dipengaruhi oleh pemanggangan biji kopi.

  • Kualitas air.

Selain biji kopi, kualitas air juga sangat menentukan kualitas kopi yang dihasilkan karena 98% penyusun kopi adalah air.

  • Proposi.

Proposi antara biji kopi dan air akan menentukan kadar kepekatan kopi.

  • Penggerusan.

Pastikan menggerus kopi secara optimal karena air panas akan mengekstrak jumlah ideal elemen kopi. Di samping itu, juga proses pemasakan yang optimal akan menghasilkan aroma dan rasa yang mantap.

  • Suhu.

Pastikan menyeduh kopi dalam waktu dan selang waktu yang sesuai. Biasanya, suhu optimal pemasakan kopi sekitar 92-96oC.

  • Mesin kopi dan cangkir.

Mesin berperan penting dalam pemasakan kopi. Mesin berkualitas baik, ditandai dengan kemampuan untuk menjaga kestabilan suhu.

Proses Panen Kopi

Pemanenan buah kopi dilakukan secara manual dengan cara memetik buah yang telah masak. Ukuran kemasakan buah ditandai dengan perubahan warna kulit buah.

Kulit buah berwarna hijau tua ketika masih muda, berwarna kuning ketika setengah masak dan berwarna merah saat masak penuh dan menjadi kehitam-hitaman setelah terlampau masak penuh (over ripe).

Kemasakan buah kopi juga dapat dilihat dari kekerasan dan komponen senyawa gula di dalam daging buah. Buah kopi yang masak mempunyai daging buah lunak dan berlendir serta mengandung senyawa gula yang relatif tinggi sehingga rasanya manis.

Sebaliknya daging buah muda sedikit keras, tidak berlendir dan rasanya tidak manis karena senyawa gula masih belum terbentuk maksimal.

Tanaman kopi tidak berbunga serentak dalam setahun, karena itu ada beberapa cara pemanenan sebagai berikut:

  1. Pemetikan selektif dilakukan terhadap buah masak.
  2. Pemetikan setengah selektif dilakukan terhadap dompolan buah masak.
  3. Secara lelesan dilakukan terhadap buah kopi yang gugur karena terlambat pemetikan.
  4. Secara racutan/rampasan merupakan pemetikan terhadap semua buah kopi yang masih hijau, biasanya pada pemanenan akhir.

 

Pasca Panen

Setelah pemanenan, ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan. Tahapan tersebut adalah sortasi buah dan pemprosesan kopi.

Sortasi Buah

Sortasi buah dilakukan untuk memisahkan buah yang superior (masak, bernas, seragam) dari buah inferior (cacat, hitam, pecah, berlubang dan terserang hama/penyakit).

Sortasi buah kopi dapat menggunakan air untuk memisahkan buah yang diserang hama. Kotoran seperti daun, ranting, tanah dan kerikil harus dibuang, karena dapat merusak mesin pengupas.

Buah kopi merah (superior) diolah dengan cara proses basah atau semi-basah, agar diperoleh biji kopi HS kering dengan tampilan yang bagus.

Sedangkan buah campuran hijau, kuning dan merah diolah dengan cara proses kering.

Pemprosesan

  1. Proses kopi secara kering (Dry Process)

Proses kopi secara kering banyak dilakukan petani, mengingat kapasitas olah kecil, mudah dilakukan dan peralatan sederhana. Tahapan pascapanen kopi secara kering dapat dilihat pada Gambar berikut.

 

Gambar 1. Tahapan pascapanen kopi secara kering (Dry Process).

 

  1. Proses Secara Basah (Fully Washed)

Tahapan proses kopi secara basah dapat dilihat pada gambar berikut:

 

Gambar 2. Tahapan proses kopi secara basah (Fully washed)

  1. Proses Secara Semi Basah (Semi Washed Process)

Proses secara semi basah dilakukan untuk menghemat penggunaan air dan menghasilkan kopi dengan citarasa yang khas (berwarna gelap dengan fisik kopi agak melengkung). Kopi arabika yang diproses secara semi-basah memiliki tingkat keasaman lebih rendah dengan body lebih kuat dibanding dengan kopi yang diproses secara basah penuh.

 

Proses secara semi-basah juga dapat diterapkan untuk kopi robusta. Secara umum kopi yang diproses secara semi-basah mutunya baik.

 

Proses secara semi basah lebih singkat dibandingkan dengan proses secara basah. Untuk dapat menghasilkan biji kopi hasil proses semi-basah yang baik, maka harus mengikuti prosedur seperti pada gambar 3:

 

Gambar 3. Tahapan proses kopi secara semi-basah (Semi-Washed).

Alat dan Mesin Pada beberapa kegiatan penanganan pascapanen kopi skala kelompok, menengah dan besar dapat menggunakan alat/mesin.

Proses ini memerlukan biaya investasi yang relatif cukup besar. Selain itu juga membutuhkan tenaga yang terlatih dan biaya operasi untuk bahan bakar dan listrik.

Alat dan Mesin yang dipergunakan untuk penanganan pascapanen kopi harus dibuat berdasarkan perencanaan yang memenuhi persyaratan teknis, kesehatan dan ekonomis.

 

Persyaratan peralatan dan mesin yang digunakan dalam penanganan pascapanen kopi harus meliputi:

  1. Permukaan yang berhubungan dengan bahan yang diproses tidak boleh berkarat dan tidak mudah mengelupas.
  2. Mudah dibersihkan dan dikontrol.
  3. Tidak mencemari hasil seperti unsur atau fragmen logam yang lepas, minyak pelumas, bahan bakar, tidak bereaksi dengan produk, jasad renik dan lainlain.
  4. Mudah dikenakan tindakan sanitasi.
  5. Memiliki laporan uji (test report) alat-mesin yang diterbitkan dari lembaga yang berwenang atau sudah terakreditasi. (Prastowo Bambang.2010)

Mesin Pengupas Kulit Kopi

Contoh sarana alat/mesin yang dapat digunakan dalam penanganan pascapanen kopi adalah Mesin Pengupas Kulit Kopi/ Basah DJ100.

Mesin pengupas kulit kopi DJ100 adalah mesin yang sangat cocok digunakan oleh petani kopi di seluruh Indonesia. Mesin ini adalah mesin manual yang tidak membutuhkan biaya investasi tinggi, namun dapat mengefisienkan tenaga kerja dan biaya pengupasan kulit.

Mesin ini adalah mesin manual dengan kapasitas 60-80 kg/jam.

Bagi petani di Indonesia, mesin ini adalah mesin yang paling sesuai. Karena kapasitas produksinya cukup besar, sekitar 60-80 kg/jam, namun sangat mudah dioperasikan dan memiliki berat hanya 24 kg. selain itu, pengoperasiannya yang manual membuat mesin ini dapat digunakan oleh semua petani tanpa harus takut dengan biaya oprasional listrik yang mahal.

Memiliki Panjang 52 cm, lebar 33 cm, dan tinggi 56 cm, mesin ini dapat dipindah-pindahkan dengan sangat mudah dan bisa digunakan secara bergantian oleh banyak petani.

Keunggulan dari Mesin pengupas Kulit Kopi/Kakao Basah DJ100 manual adalah tidak membutuhkan biaya untuk memisahkan kulit kopi/kako. Mesin ini hanya membutuhkan sedikit tenaga untuk memutar mesin dan biji kopi langsung terpisahkan dengan kulitnya.

Selain itu, mesin ini juga bergaransi dan sangat awet, digunakan dalam jangka waktu yang sangat Panjang. Sumber : https://gdmorganic.com